Tafsir:Teologi Pembebasan
TAFSIR: TEOLOGI
PEMBEBASAN ASGHAR ALI ENGINEER
“Agama adalah Candu Masyarakat”, demikian
sepenggal kalimat yang dianggap saripati pandangan Karl Marx terhadap agama.
Agama, menurut Marx adalah ciptaan manusia sebagai tempat untuk berkeluh kesah
dan pelarian sementara, mengalihkan diri dari realitas penderitaan yang di
alami oleh manusia. Agama meenyediakan ajaran-ajaran yang meninabobokan para
pengikutnya agar lebih menerima kenyataan yang ia alamai sebagai bagian dari
perjalanan hidup yang dikehendaki Tuhan.[1]
Pandangan Marx
ini didasarkan pada realitas pada zamannya, dimana agama tidak berbuat apa-apa
pada saat umatnya mengalami kemiskinan, penderitaan, dan penindasan oleh
eksploitasi para kapitalis yang mendapat dukungan dari para birokrat. Justru dalam
kondisi demikian, kaum agamawan lebih memihak pada ke kaum kapitalis, dan
memberikan legitimasi atas kondisi dan sistem ekonomi yang ada. Agama telah
terkooptasi oleh kepentingan para kapitalis dan para birokrat.
Apakah Islam
juga mengalami hal yang sama sebagaimana agama yang disaksikan Marx? Untuk
sebagian, jawabannya adalah “ya”. Menurut Hassan Hanafi, Islam yang telah
terkooptasi menjadi hanya sekedar kumpulan rirus-ritus, perayaan-perayaan, dan
kepercayaan ukhrawi saja[2]
Setelah menjadi
kekuatan besar dan mapan, Kekhilafahan Islam juga menjelma menjadi eksploitatif
dan feodal. Sedangkan perumusan Hukum Islam dan teologi yang dilakukan dalam
kondisi seperti itu, sebagian besar melahirkan produk hukum dan teologi yang
tumpul dan kehilangan elan pembebasan.[3]
Akan tetapi,
Islam tidak selamanya berwajah tumpul dan terkooptasi oleh kepentingan
kekuasaan politik dan ekonomi. Pada kesempatan lain Islam juga menjadi kekuatan
revolusioner yang menentang penindasan. Hanafi mencatat, gerakan revolusi Iran,
gerakan Tarekat Sanusiyah dan Omar Mokhtar di Libya dan gerakan Mahdiisme di
Sudan, adalah gerakan-gerakan melawan kemapanan yang dilandaskan pada
ajaran-ajaran Islam.[4]
Dari dua
kondisi yang saling berlawanan tersebut, bisa dibaca bahwa sesungguhnya Islam mempunyai
watak seperti dua sisi mata pedang. Pada saat tertentu bisa menjadi kekuatan
legitimatif terhadap kekuatan yang menindas, akan tetapi pada saat yang lain
bisa menjadi kekuatan revolusioner yang membebaskan. Dua watak itu muncul
tergantung oleh siapa dan atas kepentingan apa pihak yang menafsirkan.
Dalam posisi
yang demikian, Asghar Ali Engineer mencoba untuk membangun penafsiran yang
ingin menampilkan sosok Islam yang membebaskan, bukan sosok Islam yang
membiarkan bahkan ikut andil dalam praktik-praktik penindasan. Ia kemudian
mencoba merevitalisasi nilai-nilai Islam untuk merumuskan Islam sebagai Teologi
Pembebasan.
Makalah ini
mencoba untuk mengkaji, bagaimana Asghar Ali merevitalisasi Islam sehingga
menjadi ajaran yang membebaskan? Dengan konsep pembebasan yang ia rumuskan,
pembebasan dalam aspek kehidupan apa saja yang bisa dia tawarkan?
Pengertian dan
Sejarah Munculnya Teologi Pembebasan
Teologi
Pembebasan adalah kata majemuk dari teologi dan pembebasan. Secara etimologis,
teologi berasal dari theos yang berarti Tuhan dan logos yang
berarti ilmu. Teologi adalah ilmu yang mempelajari tentang Tuhan dan
hubungannya dengan manusia dan alam semesta. Sedangkan kata pembebasan
merupakan istilah yang muncul sebagai reaksi atas istilah pembangunan (development)
yang kemudian menjadi ideologi pengembangan ekonomi yang cenderung liberal dan
kapitalistik dan umum digunakan di negara dunia ketiga sejak tahun 60-an.[5]
Teologi
Pembebasan muncul di kawasan Amerika Latin sebagai respon atas kondisi sosial,
ekonomi dan politik saat itu. Sejak tahun 1950-an negara-negara kawasan
Amerika Latin ini melakukan proses industrialisasi di bawah arahan modal
multinasional. Namun karena mementingkan pertumbuhan ekonomi, industrialisasi
telah menciptakan kesenjangan sosial yang begitu tajam. Urbanisasi meningkat
tajam. Kaum proletar –kelas buruh– tumbuh dengan cepat. Inflasi melambung,
biaya hidup membubung. Ketidakpuasan meluas. Situasi politik menjadi tegang dan
labil. Kudeta terjadi di mana-mana dan membuahkan pemerintahan diktator
militer. Pada saat yang sama, otoritas gereja Katholik mulai terbuka terhadap
perubahan dan pandangan-pandangan dari luar.[6]
Teologi
Pembebasan merupakan gerakan yang telah dilakukan oleh para Romo, Uskup, dan
bagian-bagian lain gereja sejak awal tahun 60-an. Mereka ini memimpin “Gereja
untuk Orang Miskin”. Akan tetapi baru pada tahun 1971, Gustavo Gutierrez, asal
Peru, adalah orang pertama yang merangkum paham Teologi Pembebasan secara
tertulis lewat bukunya, Teologia de la Liberacion. Tokoh setelah
Gustavo, Juan Louise Segundo (Uruguay), Hugo Asmann (Brazil) dan John Sabrino
(El-Salvador), adalah pastor yang relatif punya otoritas dan profesional secara
akademis. Karena itu Teologi Pembebasan menjadi mainstream dan paradigma yang
khas Amerika Latin.[7]
Pemahaman
Teologi Barat (Eropa) yang bersifat transendental dan rasional, yang berkutat
dalam upaya memahami Tuhan dan iman secara rasional,[8]
menurut para uskup Amerika Latin menimbulkan kemandekan berpikir, bertindak,
dan menjauhkan gereja dari masalah-masalah kongkret. Teologi Barat, dianggap
hanya sibuk mengkhotbahkan ajaran Yesus sejauh menyangkut hidup pribadi,
mengimbau orang agar tetap bertahan dan sabar menghadapi penderitaan, menghibur
kaum miskin dan tertindas dengan iming-iming surga setelah kematian.
Menurut mereka,
gereja harus secara nyata melibatkan diri dan berpihak pada rakyat yang tak
berdaya. Agama dan teologi, lanjut mereka, tak boleh meninabobokan umat
beriman, melainkan harus memberikan dorongan kepada rakyat untuk melakukan
perubahan. Rakyat harus disadarkan bahwa penderitaan, kemiskinan, dan
keterbelakangan bukan nasib turunan, melainkan buah dari struktur
sosial-ekonomi-politik yang berlaku..
Dalam konteks
Teologi Pembebasan, Yesus adalah Sang Pembebas. Yesus lahir untuk mewartakan
kabar gembira kepada orang miskin, dan mewartakan pembebasan bagi mereka yang
terbelenggu, yang telah dengan berani menghadapi serangan para penguasa Romawi
yang menindas orang Yahudi.
Pengikut
Teologi Pembebasan memang tak menyangkal bahwa mereka menggunakan analisis
marxian. Peranan marxisme hanyalah alat analisis yang dapat merekam dan
mendeskripsikan ketidakadilan dan praktek kekerasan. Sementara pada sisi lain
mereka menolak filsafat materialisme, ideologi ateis dan pengertian agama
sebagai candu masyarakat.[9]
Kesadaran
tentang keperluan teologi serupa, rupanya juga muncul di kalangan umat Isslam.
Kita bisa menyebut Hassan Hanafi (Mesir) yang terkenal dengan gagasan Al-Yasar
Al-Islami (Kiri Islam), Ziaul Haque (Pakistan, bukan Zia ul Haq yang mantan Presiden)
yang menulis buku yang cukup provokatif, “Revelation and Revolution in Islam”
(Wahyu dan Revolusi dalam Islam), Ali Syari’ati (Iran) yang dianggap sebagai
ideolog Revolusi Iran dan harus pula disebut nama Asghar Ali Engineer (India)
yang akan kita bahas pemikirannya tentang Teologi Pembebasan.
Biografi Asghar
Ali Engineer
Asghar Ali
Engineer adalah seorang Muslim India. Ia adalah seorang pemikir, penulis dan
aktivis sekaligus. Pemikirannya yang paling dikenal adalah mengenai Islam
dan Teologi Pembebasan. Asghar lahir pada 10 Maret 1939 di Salumbar, Rajastan
India. Ayahnya, Shaikh Qurban Hussain adalah seorang ulama pemimpin kelompok
Daudi Bohras.[10]
Sewaktu belajar Tafsir dan Ta’wil Al-Qur’an, Fiqh, Hadis, dan Bahasa Arab, ia
juga banyak membaca karya-karya Bettrand Russel dan Karl Marx. Ia mengaku telah
membaca buku Das Kapital karya Marx.[11]
Bacaan ini terbukti sangat berpengaruh dalam cara dia menganalisis dan
membahasakan gagasannya dengan bahasa-bahasa “khas kiri” seperti ketidakadilan,
penindasan, revolusi, perubahan radikal, dan sebagainya.
Ia mendapatkan
gelar kesarjanaan di bidang tekhnik sipil dari Vikram University, Madhya
Pradesh. Selama 20 tahun ia sempat menjadi pegawai Kota Mumbay sampai memilih
menjadi aktivis gerakan Bohra pada tahun 1972. Pada tahun 1980, ia
membentuk Institute of Islamic Studies, di Mumbai, guna mendorong
pandangan Islam Progresif di India. Pada tahun 1993 ia mendirikan Center
for Study of Society and Secularism untuk mempromosikan kerukunan
komunal (agama).[12]
Pemahaman
keagamaan Asghar Ali, terkait kelompok Daudi Bohras ini. Daudi Bohras adalah
sekte Syi’ah Isma’iliyah yang dipimpin oleh Imam sebagai pengganti Nabi. Saat
ini Kepemimpinannya dilanjutkan oleh para Da’i. Untuk diakui sebagai seorang
Da’i harus mempunyai 94 kualifikasi yang diringkas dalam 4 kelompok: (1)
kualifikasi-kualifikasi pendidikan; (2) kualifikasi-kualifikasi administratif;
(3) kualifikasi-kualifikasi moral dan teoritikal, dan (4)
kualifikasi-kualifikasi keluarga dan kepribadian. Yang menarik adalah bahwa di
antara kualifikasi itu seorang Da’i harus tampil sebagai pembela umat yang
tertindas dan berjuang melawan kezaliman. Asghar Ali adalah seorang Da’i.[13]
Dengan memahami
posisi ini, tidak heran mengapa Asghar Ali sangat peduli dalam menyoroti
kezaliman dan penindasan. Baginya, orang yang benar-benar relijius akan
sensitife terhadap penderitaan orang lain, terutama penderitaan orang-orang
yang tertindas. Seorang relijius akan menentang ketidakadilan. Orang yang diam
dan membisu ketika melihat ketidakadilan dan penindasan, menurut Asghar tidak pantas
disebut relijius.[14]
Dari telaah kesejarahan Asghar Ali menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad sebagai
sosok yang relijius, adalah seorang revolusioner yang berjuang untuk melakukan
perubahan-perubahan secara radikal dalam struktur masyarakat pada zamannya.
Kritik Asghar
Ali Terhadap Teologi Konvensional
Menurut Asghar
Ali, Islam datang dengan semangat pembebasan, akan tetapi sepeninggal Nabi
Muhamad, Islam kehilangan elan vitalnya. Salah satunya terlihat dalam konsep
teologinya. Teologi Islam yang pada awalnya dekat dengan keadilan sosial dan
ekonomi, mulai beralih ke masalah-masalah eskatologi dan masalah yang bersifat
duniawi. Teologi Islam kemudian berkembang dengan metode skolastik dan
spekulatif.[15]
Menurut Asghar,
ini dimulai pada zaman Muawiyah. Teologi Islam mulai bergulat dengan masalah
kehendak bebas vis a vis ketundukan pada takdir. Pandangan kehendak bebas ini
kemudian dikenal sebagai pandangan kaum qadariyah. Sedangkan
pandangan ketundukan pada takdir adalah pandangan kaum jabbariyah.
Dalam pandangan Asghar, pandangan jabbariyah ini sengaja
diintrodusir oleh penguasa karena lebih cenderung mendukung status qua.
Menurutnya, kaum Sunni banyak menganut faham jabbariyah ini.
Sedangkan kaum Khawarij, Syi’ah dan Mu’tazilah yang oposan terhadap Dinasti
Umayyah memilih faham qadariyah.[16]
Teologi Islam
kemudian menjadi sebatas Ilmu Kalam yang skolastik dan spekulatif. Tema
kehendak bebas dan ketundukan pada takdir, menjadi dominan terkait dengan upaya
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul akibat persoalan politik. Kekacauan
politik yang melanda umat Islam menimbulkan pertanyaan tentang dosa besar,
mukmin dan kafir. Inilah yang ingin diselesaikan secara intelektual oleh
Teologi Islam saat itu.[17]
Asghar juga
menilai, Islam yang dekat dengan penguasa ini kemudian kehilangan aspek
pembebasan. Para Khalifah Umayyah lebih sering bersama para penguasa yang
tiran, sekaligus menindas siapa yang menentang. Jumlah budak berlipat ganda.
Harem menjadi budaya istana Khalifah. Sedangkan orang non-Arab diperlakukan
secara diskriminatif.[18]
Dari konteks
inilah, maka Teologi Islam, menurut Asghar semakin jauh dari perhatian kepada
masyarakat lemah. Teologi Islam hanya berbicara tentang keesaan Tuhan,
Sifat-sifat Tuhan, ketidakmungkinan adanya Tuhan selain Allah, tentang polemik
kehendak bebas dan takdir, dan masalah-masalah eskatologis. Teologi Islam tidak
lagi berbicara tentang bagaimana membantu fakir miskin, memelihara anak yatim,
bersikap kritis terhadap kekuasaan, membebaskan budak dan orang tertindas,
mempromosikan kesetaraan jender, dan tema-tema pembebasan lainnya. Selain itu,
keberpihakannya juga cenderung kepada penguasa. Maka, dalam kondisi demikian,
Asghar bisa memahami kritik Marx bahwa agama adalah candu masyarakat.[19]
Gagasan Teologi
Pembebasan Asghar Ali Engineer
Spirit
Pembebasan Dalam Islam
Asghar Ali
melihat Islam sebagai agama yang mengandung semangat pembebasan. Oleh karena
itu, Asghar mencoba untuk merevitalisasi nilai-nilai pembebasan Islam dan
merumuskan Islam sebagai Teologi Pembebasan. Upaya revitalisasi dan perumusan
itu dia dasarkan pada dua hal. Pertama, berdasarkan pada
analisis kesejarahan pembebasan yang pernah dilakukan Nabi Muhamad. Dalam hal
ini keyakinan Asghar terhadap nabi Muhamad sama dengan keyakinan penganut
Teologi Pembebasan di Amerika Latin terhadap Yesus.
Nabi Muhamad
lahir untuk melakukan proses pembebasan manusia dari penindasan dan
ketidakadilan. Struktur masyarakat Arab di mana Nabi Muhamad lahir waktu itu
mencerminkan ketimpangan sosial. Ada segolongan elit ekonomi dan penguasa yang
kaya raya. Sedangkan mayoritas lainnya adalah orang miskin dan para budak yang
tertindas. Ajaran Nabi Muhamad, ditolak semata-mata bukan karena ajarannya
untuk menyembah Allah, tapi karena implikasi sosialnya yang akan secara radikal
merubah tatanan yang tidak adil itu.
Selain itu,
dalam sejarah, Nabi juga telah melakukan upaya-upaya radikal untuk memberi
posisi yang layak pada perempuan, setelah sebelumnya posisi perempuan dalam
budaya waktu itu berada pada tempat yang sangat rendah.
Kedua, dari banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an yang secara
eksplisit mendorong proses pembebasan seperti Ayat tentang pemerdekaan budak,
kesetaraan umat manusia, kesetaraan jender, kecaman atas eksploitasi dan
ketidakadilan ekonomi, dan lain sebagainya. Sebagian ayat perlu ditafsir ulang
karena penafsiran yang ada saat ini terhadap sebagian ayat itu, menurut Asghar
tidak sesuai lagi dengan semangat pembebasan awal, semisal ayat-ayat tentang
keadilan jender.
Dalam pembacaan
ayat-ayat Al-Qur’an ini Asghar menggunakan pendekatan sosio-historis
sebagaimana double movement-nya Fazlur Rahman. Asghar mencoba
kembali ke masa lalu di mana ayat-ayat itu turun, mengambil esesnsi dasar dari
maksud ayat itu, kemudian dikontekstualisasikan pada problem-problem
kontemporer.
Dari dua hal
inilah Asghar ingin menggali Teologi Pembebasan dari nilai-nilai Islam. Berbeda
dengan Gustavo Guiterez yang tinggal menuliskan apa yang baru saja terjadi,
Asghar mencoba untuk merekonstruksi kembali apa yang terjadi, terutama, pada
praksis pembebasan yang dilakukan Nabi Muhamad empat belas abad yang lalu.
Pembebasan Dari
Ketidaksetaraan Manusia
Pada zaman Nabi
Muhamad dulu, masyarakat Arab dikenal fanatik terhadap suku mereka. Sikap
fanatisme atau ashabiyah ini terekspresikan dengan memandang
rendah orang di luar kelompoknya. Selain itu, sebagaimana di belahan bumi
lainnya, perbudakan adalah sesuatu yang lazim. Tindakan nabi memilih sahabat
Bilal sebagai muazzin pada waktu itu sungguh merupakan
tindakan yang menurut Asghar cukup revolusioner sebab sebelumnya, Bilal yang
berasal dari etnis berkulit hitam tersebut adalah bekas budak. Dengan cara ini
nabi menunjukkan bahwa harkat martabat manusia melampaui batas-batas etnis,
suku, warna kulit, merdeka atau hamba sahaya.[20]
Selain itu,
Al-Qur’an menegaskan bahwa sesungguhnya semua umat manusia berasal dari satu
keturunan yang sama. Tidak ada yang lebih mulia satu dari lainnya berdasarkan
etnis, suku ataupun warna kulit. Kemulian itu hanya bisa dicapai lewat kualitas
ketakwaan. Al-Qur’an menyatakan: “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa
– bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang
yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al-hujurat: 13).
Ayat di atas
diperuntukkan tidak hanya bagi orang Arab, tetapi bagi seluruh umat
manusia. Dewasa ini, persoalan kesetaraan umat manusia masih menjadi
persoalan dunia. Rasisme masih menghinggap di banyak pikiran orang, sehingga
PBB perlu untuk meneguhkan ide-ide persamaan ini.
Pembebasan Dari
Ketidakadilan Jender
Pada zaman
Nabi, untuk pertama kalinya perempuan Arab mendapatkan banyak hak yang
sebelumnya tak terbayangkan. Perempuan pada masa itu dalam posisi sub-ordinat
yang sangat lemah. Nabi menetapkan, Perempuan bisa mewarisi, bisa
mempunyai hak milik sendiri, bisa menta cerai dan bisa menentukan dirinya
sendiri. Pada sisi lain, poligini yang sebelumnya tanpa batas, kemudian
dibatasi maksimal empat istri. Itupun dengan persyaratan yang ketat. Sedangkan
poliandri dengan tegas dilarang.[21]
Selain itu,
Nabi Muhamad merubah perlakuan masyarakat terhadap anak perempuan. Jika
sebelumnya masyarakat Arab mempunyai tradisi mengubur anak perempuannya
hidup-hidup karena rasa malu, maka Nabi kemudian melarang tradisi itu sekaligus
merubah stigma negatif terhadap anak perempuan.
Selain itu,
Islam juga memberikan hak yang sama bagi perempuan untuk mendapatkan
pendidikan, hak berpolitik, hak untuk memimpin, hak untuk bekerja dan hak untuk
terlibat aktif pada urusan publik. Untuk itu, pada sisi lain, Asghar mengkritik
Negara-negara yang mengatasnamakan Islam melakukan pengekangan terhadap hak-hak
perempuan.
Pembebasan Dari
Ketidakadilan Ekonomi
Ketidakadilan
ekonomi adalah persoalan yang paling banyak disinggung oleh Asghar Ali. Dalam
Al-Qur’an, kata kunci keadilan adalah ‘adl dan qist.
Ádl dalam bahasa Arab mengandanung arti sawiyyah atau
persamaan/kesetaraan. Kata itu juga mengandung arti pemerataan dan kesamaan.
Sedangkan qist mengandung arti distribusi, jarak yang merata,
kejujuran dan kewajaran.[22]
Dengan konsep
ini, maka yang diinginkan oleh Al-qur’an adalah pemerataan kekayaan. Oleh
karena itu Islam melarang konsentrasi harta pada pihak-pihak tertentu. Dan
menentang bermewah-mewahan dengan harta, sementara pada saat yang sama banyak
orang lain yang membutuhkan. Konsentrasi ini dalam konteks saat ini bisa pada
diri perseorangan atau kelompok dalam satu wilayah atau Negara, bahkan bisa
lintas Negara. Polaritas antara Negara Utara dan Negara Selatan di mana
kebanyakan negara berpenduduk Islam berada di situ, adalah juga bentuk
konsentrasi kekayaan. Negara Utara, teerutama G-8, mewakili negara dengan
kekayaan berlimpah sedangkan Negara Selatan mewakili Negara dunia ketiga yang
miskin.[23]
Satu praktik
ekonomi yang saat itu sangat dikecam adalah praktik riba yang banyak
ditafsirkan sebagai bunga. Dalam konteks kehidupan modern, riba selalu
dikonotasikan dengan dunia perbankan dan praktik rentenir. Asghar tidak setuju
dengan penafsiran ini. Menurutnya riba tidak sekedar bunga bank. Riba kebih
dari sekedar bank. Oleh karena itu, menghilangkan bunga bank tidak akan
berpengaruh banyak terhadap praktek riba. Menurut Asghar, riba adalah praktik
eksploitasi ekonomi yang harus dipahami dalam konteks sistem ekonomi
kapitalistik sekarang ini. Maka, kemunculan bank-bank tanpa bunga tidak
mempengaruhi eksploitasi ekonomi tersebut.
Asghar lalu
menunjuk pada struktur ekonomi yang timpang antara Negara Utara dan Negara
Selatan, aturan-aturan perdagangan seperti WTO, atau aturan bantuan oleh World
Bank dan IMF yang menciptakan ketergatungan negara miskin dan menguntungkan
Negara kaya. Selain itu Asghar juga menunjuk dominasi Multinational
Corporation (MNC) dan Transnational Corporation (TNC)
yang banyak mengeksploitasi buruh dan sumberdaya alam di negara dunia ketiga.[24]
Kondisi eksploitatif ini sampai sekarang belun ada tanda-tanda akan mereda,
bahkan seiring dengan menguatnya madzhab ekonomi neo-liberal, Negara-negara
kuat semakin kuat untuk mengekspresikan naluri-naluri eksploitatifnya dengan
menekan Negara-negara lemah agar membuat kebijakan yang menguntungkan mereka.
Hanya saja,
tawaran Asghar mengenai masalah ketidakadilan ekonomi ini sangat problematis.
Pada masalah bunga bank, ia tidak setuju dengan upaya pendirian perbankan tanpa
bunga, karena cara seperti itu hanya artificial semata dan tidak menyelesaikan
persoalan yang sesungguhnya, yaitu system ekonomi kapitalistik yang
eksploitatif.
Akan tetapi ia
belum memberi solusi yang jelas atas problem perbankan ini. Pada sisi lain,
kritiknya atas sistem ekonomi kapitalis tidak disertai dengan tawaran yang
kongkrit tentang sistem ekonomi alternatif. Gagasannya yang cenderung
sosialistik tidak serta merta diikuti dengan tawaran sistem ekonomi sosialis
atau system ekonomi lainnya yang menjadi alternative dari kapitalisme. Untuk konteks
sekarang ada banyak contoh dari Amerika Latin yang secara kebetulan merupakan
basis Teologi Pembebasan. Di sana kapitalisme mendapat goyangan yang cukup
hebat karena semakin banyaknya tokoh-tokoh “kiri” yang menjadi presiden. Mereka
kemudian membawa negaranya beralih ke sistem yang popular dengan sebutan
‘neo-sosialisme’ yang merupakan revisi dari sosialisme yang dinilai kurang
mampu membawa kemakmuran.
Kesimpulan
Ketika
dihadapkan pada persoalan-persoalan riil kemanusian seperti kemiskininan,
penindasan dan ketidakadilan, agama dianggap sebagai institusi yang mandul,
tidak mampu berbicara dan bahkan kadang malah melegitimasi kepentingan
penguasa. Hal ini karena inti dari ajaran atau teologi dari agama-agama yang
ada tidak banyak perhatian dan keberpihakan kepada kaum lemah.
Asghar Ali
tidak menolak jika itu ditujukan pada Agama Islam. Satu sisi ia melihat teologi
Islam yang ada memang lebih banyak berbicara tentan Tuhan dalam dirinya sendiri
dan persoalan-persoalan eskatologis. Akan tetapi pada sisi lain Asghar
berpandangan bahwa Islam juga mempunyai nilai-nilai pembebasan yang
revolusioner.
Dalam kerangka
ini, Asghar mencoba merevitalisasi nilai-nilai pembebasan Islam untuk
merumuskan Teologi Pembebasan. Upaya ini dilakukan Asghar dengan dua cara, pertama
melakukan analisis sejarah atas praktik-praktik pembebasan yang dilakukan oleh
nabi. Keduadengan menggali nilai-nilai pembebasan dari ayat-ayat
Al-Qur’an yang berbicara tentang pembebasan budak, kesetaraan manusia, keadilan
ekonomi, dan ayat-ayat pembebasan lainnya. Upaya ini dilakukan dengan
pendekatan sosio-historis sebagaimana double movement-nya Fazlur
Rahman
Dari sinilah
dia mengemukakan tiga pembebasan yang mesti dilakukan umat manusia. Pertama, pembebasan
dari sikap dan praktik-praktik rasisme dan sikap-sikap lain yang didasarkan
pada anggapan bahwa manusia, ras, etnis dan suku tertentu antara satu dengan
lainnya tidak setara.
Kedua, pembebasan terhadap perempuan yang saat ini
posisinya masih sub-ordinat di bawah laki-laki karena ideologi jender yang
memandang posisi laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Ketiga, pembebasan
dunia dari struktur ekonomi kapitalistik yang eksploitatif dan semakin
meneguhkan ketimpangan ekonomi dunia.
Daftar Pustaka
Asghar Ali Engineer,
Islam Masa Kini, (yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2004).
Asghar
Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogjakarta:
Pustaka Pelajar, 1999).
Asghar
Ali Engineer, Islam dan
Pembebasan, terj.
Hairus Salim dan Imam Baehaqy, (Yogjakarta: LKiS, cet. VII, 2007).
E.
Kusnadiningrat, Teologi dan Pembebasan, Gagasan Islam Kiri Hasan
Hanafi, (Jakarta: Logos, 1999).
Frans
Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx dari
sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, (Jakarta:
gramedi, 1999).
Hassan hanafi, Kiri
Islam, dalam Kazuo Shimogaki, Kiri Islam Antara Modernisme dan
Posmodernisme, Telaah Kritis atas Pemikiran Hassan Hanafi, terj. Imam
Aziz dan Jadul Maula, (Yogjakarta: LKIS, cet. VII 2007).
Michael
Lowy, Teologi
Pembebasan, (Yogjakarta:
Pustaka Pelajar, 1999).
[1]
Frans Magnis Suseno, Pemikiran
Karl Marx dari sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, (Jakarta: gramedi, 1999), hlm. 73.
[2]
Hassan hanafi, Kiri
Islam, dalam Kazuo Shimogaki, Kiri Islam Antara Modernisme dan
Posmodernisme, Telaah Kritis atas Pemikiran Hassan Hanafi, terj. Imam
Aziz dan Jadul Maula, (Yogjakarta: LKIS, cet. VII 2007), hlm.116.
[3]
Asghar Ali Engineer, Islam
dan Pembebasan, terj.
Hairus Salim dan Imam Baehaqy, (Yogjakarta: LKiS, cet. VII, 2007), hlm. 16.
[5]
Francis Wahono
Nitiprawiro, Teologi
Pembebasan, Sejarah, Metode, Praksis dan Isinya, (Yogjakarta: LKiS, cet. II, 2008),
hlm. 8-9
[8]
Francis Wahono
N., Teologi…, hlm.3
[14]
Asghar Ali
Engineer, Islam Masa Kini, hlm. xiv-xv.
[17] E. Kusnadiningrat, Teologi
dan Pembebasan, Gagasan Islam Kiri Hasan Hanafi, (Jakarta: Logos,
1999), hlm. 29-30

0 Response to "Tafsir:Teologi Pembebasan"
Posting Komentar