Comment

Loading...

Blogger news

Asababun Nuzul




Surat As-Sajadah [32]: 16
تتجافي جنوبهم عن المضاجع يدعون ربهم خوفا وطمعا ومما رزقناهم ينفقون
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka”. (QS. As-Sajadah [32]: 16 )
Asbabun Nuzul  
Dalam suatu riwayat dikemukakan oleh Al-Bazzar yang bersumber dari Bilal, meskipun ada satu perawi yang dha’if yaitu ‘Abdullah bin syabib. Bahwasanya ketika Bilal dan para sahabat Rasulullah duduk-duduk di masjid, ada sahabat-sahabat lainnya yang shalat sunnat sesudah maghrib sampai isya. Maka turunlah ayat ini (QS. As-Sajadah [32]: 16 ) yang mengilustrasikan perbuatan-perbuatan orang-orang yang terpuji.[1]
            Dalam riwayat dari Anas yang dishahihkan oleh at-Tirmizi diterangkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sahabat yang menunggu shalat al-‘athamah (shalat isya yang dilakukan pada akhir malam).
Pemahaman Ayat
Allah banyak menyebutkan simbol orang-orang beriman yang sejati. Termasuk dalam surat As-Sajdah ayat 16 ini kita tidak bisa mengabaikan ayat sebelumnya, dimana ayat sebelumnya menjelaskan tanda orang yang benar-benar beriman.
انما يؤمن بايتنا الذين اذا ذكروا بها خروا سجدا وسبحوا بحمد ربهم وهم لا يستكبرون
Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.(QS. As-Sajdah [32]: 15)
            Kalau diperhatikan dengan teliti ayat ini, serta pujian yang disandangkan kepada mereka, maka tidaklah keliru kalau yang dibicarakan ayat ini adalah mereka yang benar-benar yang telah mantap imannya. Dengan demikian, mestinya kata yang digunakakn adalah innama al-mu’minun, penggunaan fi’il mudhari’ di sini mengisyaratkan bahwa keimanan mereka terus menerus bertambah akibat mendengar ayat-ayat Allah.
            Terlepas dari ayat 15 ini, pada ayat 16 Allah kembali mengulangi pujiannya terhadap orang-orang yang punya iman yang sejati dengan pujian yang lebih bersifat aplikatif.  Ayat 16 ini melukiskan amal perbuatan mereka, sedang ayat yang sebelumnya melukiskan sifat-sifat bathin mereka. Dengan firmannya menjauh lambung mereka dari tempat tidur mereka, artinya mereka tidur kecuali sedikit, tetapi ketiadaan tidur mereka itu bukan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, tetapi saat-saat itu mereka senantiasa berdo’a kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dari siksa-Nya dan harap akan ridha-Nya dan disamping itu sebagian mereka dari rezeki yang yang Kami berikan kepada mereka senantiasa mereka nafkahkan.[2]
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Nabi SAW bersabda,’Tuhan Kami merasa kagum kepada dua orang lelaki, yaitu seorang lelaki yang bangkit dari tidurnya di antara kekasih dan keluarganya untuk mengerjakan shalat, karena mengharapkan pahala di sisi-Ku. Dan seorang lelaki yang berperang di jalan Allah SWT, lalu ia terpukul mundur, lalu ia mengetahui azab yang akan menimpanya apabila ia lari, dan pahala yang akan diterimanya apabila ia kembali (ke medan perang). Lalu ia kembali dan darahnya teralirkan (gugur) karena mengharap pahal yang ada di sisi-Ku, dank arena takut azab yang ada di sisi-Ku. Maka Allah SWT berfirman kepada malaikat,’Lihatlah hamba-Ku itu, dan kembali (ke medan perang) karena mengharapkan pahala yang ada di sisi-Ku, dan takut terhadap azab yang ada di sisi-Ku, sehingga darahnya teralirkan.[3]
Dari riwayat lain juga Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Mu’az bin jabal berkata:’Dahulu aku bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan. Suatu hari aku berada di dekat beliau dan kami sedang berjalan, lalu aku bertanya:’Ya Nabi Allah, berilah kabar kepadaku tentang suatu amal yang dapat memasukkan aku ke dalam surge dan menjauhkan aku dari api Neraka’. Beliau menjawab:’Engkau bertanya tentang suatu hal yang besar dan mudah bagi orang yang diberi kemudahan. Engkau beribadah kepada Allah tanpa syirik kepadanya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan dan melaksanankan haji’. Beliau pun bertanya:’Maukah engkau aku beritahu tentang pintu-pintu kebaikan dan shalat seseorang di tengah malam.’ Kemudian Beliau membaca ayat 16 ini. Kemudian beliau bertanya:’Maukah akuu beritahu kamu tentang perkara utama, tiang dan puncaknya?’ aku menjawab:’ Tentu, ya Rasulullah’. Beliau bersabda:’Perkara utama adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad fi sabilillah’. Kemudian beliau bertanya:’ Maukah aku beritahu penghimpun semua itu? Aku menjawab:’ Tentu, ya Rasulullah’. Lalu beliau memegang lisannya, kemudian bersabda:’jagalah ini’. Aku bertanya:’Ya Rasulullah, kami akan siksa disebabkan apa yang kami katakana? Beliau menjawab:’Ibumu rugi hari Mu’az, tidaklah manusia digiring ke api Neraka pada wajah-wajah mereka atau hidung-hidung mereka kecuali itu disebabkan dari hasil ucapan mereka.[4]
Kontektualisasi Ayat
            Dalam rangka mengkontektualisasi sebuah ayat, maka kita tidak jauh dari konteks ayat itu turun. Ayat 16 dari surat As-Sajdah ini konteksnya seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, bahwasanya tanda-tanda orang beriman mereka mengurangi tidur, mereka sering bangun di pertengahan malam melakukan salat malam, berdoa kepada Allah SWT mengharapkan agar dihindarkan dari siksaan-Nya dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang telah mereka peroleh dari Allah. pemakalah melihat dari konteks itu sebagai sebuah teori gabungan, artinya untuk menjadi hamba Allah yang benar-benar beriman, maka tidak boleh mengerjakan salah satu sifat yang Allah sebutkan, jika ada salah satu yang tidak dilaksanakan maka predikat iman yang sejati akan tidak diraih.
            Ayat ini secara faktual memang berbicara tentang pujian bagi orang-orang beriman yang Allah ungkapkan di berbagai ayat salah satunya ayat ini. Tetapi kalau kita lihat secara utuh, maka ayat ini menarik dikontektualisasikan. Pada ayat ini ada dua point penting yang tersurat; pertama, shaleh ibadah, dan kedua, shaleh sosial.
Manusia berwatak ideal; watak manusia yang ideal dalam Islam adalah yang berwatak menyeluruh. Ia bukan hanya mawas diri, melainkan juga mawas sosial. Bila malam hari ia larut dalam dirinya sendiri dan melupakan dunia, siang hari ia menjerjuni kehidupan sosial.[5] banyak di antara orang beriman mempunyai menset yang berbeda, sebagian kalangan mereka mengaku Islam berpandangan bahwa imannya sudah sempurna. Padahal apa yang dilakukan untuk itu hanyalah sebagian dari agama saja. Orang yang beriman sejati adalah hablum min Allah  dan hablum min an-Naas nya terjalin bagus. Seperti yang termuat dalam ayat 16 dari as-Sajdah. Yaitu merekalah orang yang di malam hari mereka menjalin hubungan harmonis dengan Tuhan mereka. Apalagi pada siang hari mereka berinteraksi dengan alam sekitar mereka.

Daftar Pustaka
Abdullah Alu Syaikh, Lubab at-Tafsir, penerjemah: Abdul Gaffar, Jakarta: Pustaka Imam ___________Syafi’i, 2007
Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, terj. Bahrun Abu Bakar dkk., Cet. Kedua, Semarang: Karya Toha Putra, 1993
H.A.A. Dahlan, Asbabun Nuzul, Bandung: Diponegoro, 2000
Murtadha Muthahhari, Energi Ibadah, Jakarta: Serambi, 2007
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur`an, (Jakarta: __________Lenteraa Hati, 2007

             
                                         
         



[1] H.A.A. Dahlan, Asbabun Nuzul, (Bandung: Diponegoro, 2000), hal. 419
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur`an, (Jakarta: Lenteraa Hati, 2007), Vol. 11.  hal. 96.
[3] Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, terj. Bahrun Abu Bakar dkk., Cet. Kedua, (Semarang: Karya Toha Putra, 1993), Juz. XXI, hal. 213.
[4] Abdullah Alu Syaikh, Lubab at-Tafsir, penerjemah: Abdul Gaffar, (Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2007 ), hal. 429.
[5] Murtadha Muthahhari, Energi Ibadah, (Jakarta: Serambi, 2007), hal. 153.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Asababun Nuzul"

Posting Komentar