Comment

Loading...

Blogger news

Asbabun-Nuzul


واذا سمعوا ما انزل الي الرسول تري اعينهم تفيد من الدمع مما عرفوا من الحق يقولون ربنا امنا فاكتبنا مع الشاهدين
Artinya: “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang Telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami Telah beriman, Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).”
Asbabun-Nuzul
Berkenaaan dengan kedua ayat ini, ada beberapa riwayat tentang asbabun-nuzul ayat ini:
Pertama:  Kedua ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Raja Najasy dan para pendeta. Ketika mereka mendengar ayat-ayat al-Qur’an dibaca di hadapan mereka, melelehlah air mata mereka karena yakin dan percaya terhadap isi kandungan ayat-ayat tersebut. Ayat ini turun sebagai ketegasan, bahwa diantara ahli kitab ada juga yang beriman kepada Allah SWT dan kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.[2]
Kedua: Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim dari Sa’id bin Musayyab dari Abu Bakar bin Abdurrahman dari Urwah bin Zubair, bahwasanya Pada suatu hari Rasulullah SAW. mengutus Amir bin Umayyah adh-Dhamiri untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Raja Najasyi. Amir melaksanakan tugas dari Rasulullah SAW tersebut, dan setelah tiba dihadapan Raja Najasyi dibacakan surat Rasulullah SAW itu. Raja Najasyi kemudian memanggil Ja’far bin Abi Thalib dan orang-orang yang berhijrah bersamanya ke Habasyah. Raja Najasyi memanggil pula para Rahib (cendikiawan dan pembesar Nasrani) dan para cendikiawan Yahudi. Ketika itu Raja Najasyi memerintah kepada Ja’far bin Abi Thalib untuk membaca ayat-ayat al-Qur’an. Dan dibacalah surat Maryam. Semua yang mendengarkan bacaan ayat-ayat al-Qur’an itu merasa terpanggil dan beriman kepada isi kandungan al-Qur’an, sehingga mereka melelahkan air mata. Sehubungan dengan itu Allah SWT menurunkan ayat 83.[3]
Pemahaman dan Kontekstualisasi Ayat
          Pada sebelumnya ayat 82 menjelaskan bahwa kerasnya hati serta kebencian orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap Islam bermula dari Nabi Muhammad SAW yang memperoleh kehormatan menjadi Nabi, padahal tadinya mereka harapkan kehormatan itu dari Bani Israil. Kedengkian itu berkembang menjadi lebih besar dengan persatuan masyarakat Aus dan Khazraj di bawah naungan Islam. Pada kalangan mereka terdapat (قسيسين) qissisin yakni pendeta-pendeta yang memahami ajaran Isa Al-Masih yang menekankan sisi-sisi kerohanian, sebagaimana terdapat pula di kalangan mereka ruhban, yakni rahib-rahib yang member keteladanan dalam menjauhkan diri dari gemerlapan duniawi.[4]
            Pada ayat 83 ini menjelaskan bahwa sikap orang-orang Nasrani pada ayat sebelumnya. Kalau akhir ayat yang lalu menyatakan bahwa mereka tidak menyombongkan diri, maka hal ini disebabkan karena ketulusan hati mereka. Dan sehingga apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul Muhammad yaitu al-Qur’an, engkau lihat mata mereka penuh dengan air mata, sehingga wadahnya tidak lagi menampungnya.
            M. Qurasih Shihab menafsirkan kata (تفيض) tafidh/ melimpah menunjukkan hati mereka sedemikian terharu sehingga cucuran air mata mereka sangat deras memnuhi kalbu mereka, karena sesuatu tidak melimpah kecuali wadahnya sudah penuh. Dan kata (نطمع) nathma’u terambil dari kata (طمع) thama’/tamak dan diterjemahkan dengan kami sangat ingin. Ucapan ini menunjukkan betapa kuat iman mereka, dan betapa lurus keberagamaan mereka. Seolah-olah mereka siap untuk mengamalkan tuntutan, namun mereka tidak memastikan keselamatan, tetapi masih menginginkannya dengan keinginan yang meluap, layaknya seorang yang tamak.[5]
Melihat konteks sekarang, dalam diri Islam sendiri ada beberapa pemahaman tentang amar makruf nahi mungkar dengan beragam pemahaman, ada yang kembali kepada teks ada juga sebaliknya. Ada yang memahami amar ma’ruf nahi mungkar dengan teks yakni jalur keras harus dengan pedang. Di Indonesia kita lihat sering terjadi kesalahpahaman suatu kelompok Islam garis keras. Mereka memahami konsep amar ma’ruf nahi mungkar dengan ekstrim. Mungkin kita perlu melihat konteks ayat ini, dari konteks ayat ini kita bisa ambil pelajaran serta pemahaman, bahwa menyampaikan dakwah Islam itu harus dengan lemah lembut, bukan dengan kekerasan ataupun dengan pedang. Sebagaimana wasiat Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun yang termuat dalam ayat 44 surat Thaha:
فقولا له قولا لينا لعله يتذكر او يخشي
Artinya: Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".
Dari konteks ayat ini juga dipahami bahwa, Islam  yang dibawa Nabi akhir zaman ini, mengajarkan untuk berlaku adil dalam mensyi’arkan rahmat Allah untuk semesta alam. Tidak memandang agama dan kelas sosial. Sekelompok Yahudi dan Nasrani, khususnya Raja Najasy yang begitu keras terhadap umat Islam, berbalik menjadi malaikat yang berhati lunak, saat dibacakan ayat-ayat Allah terketuklah hati mereka, maka tebarkan rahmat Allah kepada siapa saja, karena Islam merupakan Rahmatan lil Alamin.
Sebagaimana dalam firman Allah surat al-Anbiya’ 107:
وما ارسلنك الا رحمة للعلمين
Artinnya: “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Senada dengan ayat 83 dari surat al-Baqarah
وقولوا لناس حسنا
Artinya: ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia






[1] Lihat QS. Al-Ma’idah [5]: 83
[2] A. Mujab Mahaali, Asbanun-Nuzul, Jakarta: PT Grafindo Persada, 2002, hal. 337.
[3] A. Mujab Mahaali, Asbanun-Nuzul, Jakarta: PT Grafindo Persada, 2002, hal. 337
[4] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur`an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Vol.III, hal. 180.
[5] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur`an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Vol.III, hal. 182.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Asbabun-Nuzul"

Posting Komentar