Wawasan Al-Qur`an Tentang Tuhan
Wawasan Al-Qur`an tentang Tuhan
Fitrah
Manusia Akan Keberadaan Tuhan
Al-Qur`an
dalam kedudukannya sebagai kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa Sallam yang merupakan
penutup para Nabi, ia datang sebagai petunjuk yang diberikan untuk meluruskan
penyimpangan-penyimpangan yang terdapat pada ajaran-ajaran umat sebelumnya,
sekaligus menjadi penyempurna pengetahuan tentang hal-hal tidak terdapat di
dalamnya.
Pengetahuan
yang paling pokok dari apa yang dijelaskan di dalam Al-Qur`an ialah pengetahuan
tentang Ketuhanan. Karena hampir dari seluruh ayat yang terdapat di dalamnya
menjelaskan tentang bagaimana kedudukan Tuhan. Menurut M. Quraish Shihab dalam
bukunya Wawasan Al-Qur`an bahwa ketika kita membuka lembaran-lembaran
Al-Qur`an, hampir tidak ditemukan ayat yang membicarakan tentang wujud Tuhan.
Bahkan ia menambahkan kutipan dari pendapat Abdul Halim Mahmud yang menegaskan
bahwa, karena sedemikian jelasnya wujud Tuhan dan begitu terasa, maka tidak
akan ditemukan di dalam Taurat, Injil, bahkan Al-Qur`an penguraian tentang
keberadaan Tuhan.
Keinsyafan
akan keberadaan Tuhan ini dijelaskan di dalam Al-Qur`an dan dikonotasikan
sebagai suatu fitrah yang terdapat pada setiap insan. Sebagaimana tercantum
dalam Al-Qur`an Surat Ar-Rum, ayat 30.
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pkön=tæ 4 w @Ïö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 Ï9ºs ÚúïÏe$!$# ÞOÍhs)ø9$# ÆÅ3»s9ur usYò2r& Ĩ$¨Z9$# w tbqßJn=ôèt ÇÌÉÈ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada
agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap insan yang dilahirkan ke
dunia dibekali dengan fitrah untuk menginsyafi keberadaan Tuhan hingga
menjalankan segala konsekuensi dari fitrah tersebut, yakni menuju kepada agama
Allah serta menjalankan segala ajaran syari’atnya. Maksud dari fitrah itu ialah
Tauhidullah. Sabda Nabi Shallallahu
‘alaihi wa Sallam,
قال النبي صلى الله
عليه وسلم ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
(الحديث)[1]
“Tidaklah yang dilahirkan (ke dunia) itu kecuali dilahirkan atas
fitrah. Maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau
Majusi.
Adapun
yang dimaksud dengan fitrah di atas adalah Agama Tauhid, yakni Islam.[2]
Maka merupakan hal yang tidak wajar bagi setiap insan pada masa kini apabila
mereka tidak mengikuti fitrahnya untuk beragama Tauhid itu lantaran pengaruh
lingkungan. Karena Allah sendiri telah megaskan hal ini di dalam hadits qudsi.
Sebagaimana yang diriwayatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,
“…Dan sungguh Aku telah ciptakan hambaKu seluruhnya dalam
keadaan hanif (lurus dalam tauhid). Dan sungguh telah datang pada mereka
syetan-syetan yang menjadikan mereka keluar dari agama mereka.”
Awal Pengenalan Tuhan
Seiring pesatnya kemajuan zaman dan teknologi manusia cenderung
untuk lebih mengetahui berbagai hal yang ada di sekitarnya. Sehingga semakin ia
menggali pengetahuan tentang alam semesta serta mencoba memecahkan semua
misteri yang terdapat di dalamnya, semakin pula ia menyadari akan keterbatasan
dirinya di hadapan keagungan ciptaan yang tidak mungkin tercipta secara
kebetulan dan sampailah pada keinsyafan akan keberadaan Tuhan. Bahkan Harun
Yahya dalam bukunya Mengenal Allah Lewat Akal, menegaskan bahwa ilmu
pengetahuan mengarahkan kita kepada kesimpulan bahwa alam semesta ini memiliki
Pencipta yang teramat sempurna dalam hal kekuasaan, kebijaksanaan, dan
pengetahuan. Dan Agamalah -dalam hal ini wahyu- yang meperihatkan jalan kepada
kita untuk mengenal Allah.[4]
Sebagaimana dijelaskan bahwa
Al-Qur`an dan Ajaran Islam merupakan penyempurna ajaran-ajaran sebelumnya, maka
pengenalan tentang keberadaan Tuhan dan pemaparan tauhid di dalamnya pun
merupakan yang paling jelas dari apa yang dijelaskan dalam ajaran-ajaran
sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari permulaan wahyu yang turun kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallah, yakni surat Al-‘Alaq ayat 1-5.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷èt ÇÎÈ
Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu yang Menciptakan (1). Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah
(2). Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah (3) Yang mengajar (manusia) dengan
perantaran kalam (4) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya
(5).
Dalam rangkaian wahyu-wahyu pertama di atas. Al-Qur’an menunjukkan
serta memperkenalkan Tuhan Yang Maha Esa dengan kata Rabbuka (Tuhan)
Pemeliharamu (Muhammad), bukan kata Allah. Hal yang demikian disebabkan
karena kata Allah itu lebih mencakup dari kata Rabb. Kata Allah
lebih meliputi sifat dan asma (nama-nama)-Nya. Sedangkan kata Rabb, yang
bermakna sebagai Tuhan Pengurus, digunakan untuk membuktikan bahwa ternyata keberadaan
Tuhan Yang Maha Esa dapat dibuktikan melalui keeksistensian Allah sebagai
pencipta dan Murabbi dari ciptaan-Nya (alam semesta).
Kesengajaan pemilihan kata Rabb dalam permulaan wahyu itu bertujuan
untuk suatu hikmah yang tinggi. Yakni, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla
sejak permulaan telah memperingatkan bahwa dalam hal membaca haruslah atas nama
Rabb (Tuhan Yang Mengurus, Mendidik) atau dalam kata laini harus tetap
dalam wilayah pendidikan ketuhanan.[5]
Disisi lain, tidak digunakanya kata Allah pada wahyu pertama
itu, adalah dalam rangka meluruskan keyakinan kaum musyrik, karena mereka juga
menggunakan kata Allah untuk menunjuk kepada Tuhan, namun keyakinan
mereka tentang Allah berbeda dengan keyakinan yang diajarkan oleh Islam.
Menurut Abdul Halim Mahmud, pemilihan penggunaan kata Rabb dari
pada kata Allah, sebagaimana hikmah yang telah disebut di atas seakan memberikan
isyarat kepada manusia dalam mengingatkan akan suatu perjanjian pada alam
sebelumnya. Yakni “Sesungguhnya kamu ketika masuk dalam suatu perjanjian dengan Allah untuk mengikuti
agama-Nya, hendaklah mulai membaca serta melatih diri untuk dapat menjalankan
segala ketentuan dari perjanjian tersebut.”
Dalam hal ini, sungguh Allah telah menjelaskan secara gamblang
bagaimana peristiwa ketika bani Adam diambil kesaksian mereka tentang Rabubiyyah
Allah. Yaitu peristiwa yang terjadi sebelum manusia dilahirkan, jauh sebelum
mereka dapat menggunakan fungsi akalnya dalam mengkaji ayat-ayat Allah. Informasi
ini terdapat dalam surat Al-A’raf ayat 172-173. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
øÎ)ur xs{r& y7/u .`ÏB ûÓÍ_t/ tPy#uä `ÏB óOÏdÍqßgàß öNåktJÍhè öNèdypkôr&ur #n?tã öNÍkŦàÿRr& àMó¡s9r& öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s% 4n?t/ ¡ !$tRôÎgx© ¡ cr& (#qä9qà)s? tPöqt ÏpyJ»uÉ)ø9$# $¯RÎ) $¨Zà2 ô`tã #x»yd tû,Î#Ïÿ»xî ÇÊÐËÈ ÷rr& (#þqä9qà)s? !$oÿ©VÎ) x8sõ°r& $tRät!$t/#uä `ÏB ã@ö7s% $¨Zà2ur ZpÍhè .`ÏiB öNÏdÏ÷èt/ ( $uZä3Î=ökçJsùr& $oÿÏ3 @yèsù tbqè=ÏÜö7ßJø9$# ÇÊÐÌÈ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak
Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab:
"Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang
demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya
kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan
Tuhan)",
Atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua
kami Telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami Ini adalah anak-anak
keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan
kami Karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?"
Lima ayat pertama dari surat
Al-‘Alaq tadi, selain sebagai permulaan turunya wahyu Al-Qur`an ia juga
merupakan awal dari rahmat yang diturunkan Allah ‘Azza wa Jalla kepada hambanya dan nikmat yang
dikaruniakan kepada siapa saja yang mengikutinya. Setelah penjelasan tentang perintah
membaca dengan petunjuk-Nya, pada ayat selanjutnya Al-Qur`an mengenalkan
Allah ‘Azza wa Jalla sebagai Tuhan yang menciptakan yang kemudian
memperingatkan bahwa Ialah Dzat yang menciptakan permulaan manusia dari
segumpal darah. Dzat yang mempunyai sifat kemuliaan dan kesempurnaan. Yang
memuliakan hambanya dengan mengajarkan apa yang belum diketahuinya hingga ia
akan menjadi mulia karena ilmunya. Sebagaimana kemulian yang telah dikaruniakan
kepada Adam atas para malaikat.[6]
Kemudian, setelah selesai masa fatrah
(terputusnya wahyu), dimulailah kelanjutan pengenalan tentang keberadaan,
kedudukan, dan sifat dari Tuhan seiring turunnya berbagai ayat. Maka dapat kita
katakan, hampir semua ayat Al-Qur`an itu secara konteksnya merupakan penjelasan
tentang ketuhanan. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan petunjuk kepada
orang-orang yang menghendaki kebenaran dan membantah keyakinan orang-orang yang
tetap dalam kesesatan.
Firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam
surat Ash-Shaffat ayat 53,
óOÎgÎã\y $uZÏF»t#uä Îû É-$sùFy$# þÎûur öNÍkŦàÿRr& 4Ó®Lym tû¨üt7oKt öNßgs9 çm¯Rr& ,ptø:$# 3 öNs9urr& É#õ3t y7În/tÎ/ ¼çm¯Rr& 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« îÍky ÇÎÌÈ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan)
kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi
mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya
Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
Salah satu konteks yang sering disebutkan ialah
tentang kedudukan Tuhan sebagai satu-satunya Dzat Yang Maha Kuasa. Seperti
penjelasan tentang permulaan penciptaan langit dan bumi, pemeliharaannya, serta
pemegang otoritas mutlak di hari pembalasan. Dalam surat Yunus ayat 3, Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman,
¨bÎ) ÞOä3/u ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur Îû ÏpGÅ 5Q$r& §NèO 3uqtGó$# n?tã ĸöyèø9$# ( ãÎn/yã tøBF{$# ( $tB `ÏB ?ìÏÿx© wÎ) .`ÏB Ï÷èt/ ¾ÏmÏRøÎ) 4 ãNà6Ï9ºs ª!$# öNà6/u çnrßç6ôã$$sù 4 xsùr& crã©.xs? ÇÌÈ
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur
segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada
izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka
apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”
Menyikapi Pengetahuan Tentang Tuhan
Dalam permulaan turunnya, Al-Qur’an menjelaskan tentang Tuhan Yang
Maha Pencipta, mempunyai sifat kemuliaan, dan akan mengkaruniakan kemulian
kepada manusia yang sama sekali tidak mengetahui secara pasti hal-hal ghaib
tentang ketuhanan dengan mengajarkannya sesuai apa yang terdapat pada lauh
mahfuzh. Ialah Al-Qur`an yang dalam kelanjutannya mengajarkan manusia
pengetahuan tentang ketuhanan. Namun, isyarat Al-Qur`an ini bergantung pada Receiving
(Penerimaan) dari manusia sebagai mukhatab (lawan bicara) dari kalamullah
tersebut. Firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat Ali Imran ayat
190,
cÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur É#»n=ÏF÷z$#ur È@ø©9$# Í$pk¨]9$#ur ;M»tUy Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÉÈ
“Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal,”
Maksud dari kata Ulul Albab di atas menurut ibn Katsir ialah
orang-orang yang mempunyai kesempurnaan akal dan kecerdasan, yang menelaah
segala sesuatu secara objektif dan penuh kejelian. Oleh karena itu pengetahuan
ketuhanan yang tersirat di alam semesta hanya dapat didapat oleh orang-orang
yang mempunyai sifat tersebut, hingga kemudian mereka beriman. Sebaliknnya,
mereka orang-orang yang berakal sempurna dan mempunyai kecerdasan tetapi
tidaklah objektif menghadapinya, melainkan mengedepankan hawa nafsu serta keras
kepala karena berhadapan dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan ‘nafsu kotor’nya
mereka akan tetap dalam kesesatan. Firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam
surat Al-A’raf ayat 30,
$¸)Ìsù 3yyd $¸)Ìsùur ¨,ym ãNÍkön=tã ä's#»n=Ò9$# 3 ÞOßg¯RÎ) (#räsªB$# tûüÏÜ»u¤±9$# uä!$uÏ9÷rr& `ÏB Èbrß «!$# cqç7|¡øtsur Nåk¨Xr& crßtGôgB ÇÌÉÈ
“Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi Telah pasti
kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung
(mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.”
Dalam hal menerima dan menyikapi ajakan Al-Qur`an untuk mengenal
Tuhan, Ibnu Qayyim al-Jauzy dalam kitabnya Miftah Daarus-Sa’adah menyebutkan
bahwa para Ulama Islam menetapkan beberapa metode dalam mengenal Tuhan,
tentunya sesuai apa yang Tuhan isyaratkan dalam kitab-Nya. Ia mengemukakan
bahwa berpikir tentang keberadaan makhluk-makhluk tidak hanya dapat membuktikan
keberadaan pencipta, melainkan ia juga mengenalkan kita dengan sifat-sifat yang
melekat pada sang Pencipta Yang Agung (Allah). Inilah metode umum yang
ditetapkan para Ulama.
Seperti
ayat berikut menjelaskan bahwa,
uqèd Ï%©!$# Yn=y{ Nä3s9 $¨B Îû ÇÚöF{$# $YèÏJy_ §NèO #uqtGó$# n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# £`ßg1§q|¡sù yìö7y ;Nºuq»yJy 4 uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ×LìÎ=tæ ÇËÒÈ
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang
ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu
dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.”
Dalam Mafatih Al-Ghaib Ar-Razi mengatakan bahwa penciptaan
segala sesuatu yang ada di bumi merupakan nikmat yang kedua yang diberikan
Allah ‘Azza wa Jalla kepada mukallafin (manusia). Yakni,
memanfaatkan apa yang ada di bumi dan langit. Penyebutannya dalam hal ini
sangatlah relevan dengan penjelasan yang medahuluinya tentang penciptaan
manusia dan nikmat yang pertama yang diberikan, anugerah kehidupan. [7]
Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan hal ini dalam ayat
sebelumnya pada surat Al-Baqarah. Firmanya,
$pkr'¯»t â¨$¨Y9$# (#rßç6ôã$# ãNä3/u Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)Gs? ÇËÊÈ
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan
orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”
Sebagaimana
yang telah disebutkan sebelumnya, selain
sebagai sumber pangajaran pengetahuan ketuhanan, dalam ranah lain Al-Qur`an
juga berfungsi sebagai pelurus dari keyakinan kaum musyrik yang dalam hal ini
menggunakan kata ‘Allah’ untuk menunjuk kepada Tuhan, namun keyakinan mereka
tidaklah sama dengan kenyataan dan sumber pengetahuan yang diajarkan.
Dalam surat Az-Zumar ayat 38, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
ûÍ.s!ur OßgtFø9r'y ô`¨B t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur Æä9qà)us9 ª!$# 4 ö@è% OçF÷uätsùr& $¨B tbqããôs? `ÏB Èbrß «!$# ÷bÎ) uÎTy#ur& ª!$# AhÛØÎ/ ö@yd £`èd àM»xÿϱ»x. ÿ¾ÍnÎhàÑ ÷rr& ÎTy#ur& >pyJômtÎ/ ö@yd Æèd àM»s3Å¡ôJãB ¾ÏmÏGuH÷qu 4 ö@è% zÓÉ<ó¡ym ª!$# ( Ïmøn=tã ã@2uqtGt tbqè=Ïj.uqtGßJø9$# ÇÌÑÈ
Dan sungguh
jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan
bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka
Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah
hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat
menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku,
apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah
bagiku". kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.
Dalam ayat lain
dikemukakan bahwa,
$tBur (#râys% ©!$# ¨,ym ÿ¾ÍnÍôs% øÎ) (#qä9$s% !$tB tAtRr& ª!$# 4n?tã 9|³o0 `ÏiB &äóÓx« 3 ö@è% ô`tB tAtRr& |=»tGÅ3ø9$# Ï%©!$# uä!%y` ¾ÏmÎ/ 4ÓyqãB #YqçR Yèdur Ĩ$¨Y=Ïj9 ( ¼çmtRqè=yèøgrB }§ÏÛ#ts% $pktXrßö6è? tbqàÿøéBur #ZÏWx. ( OçFôJÏk=ãæur $¨B óOs9 (#þqçHs>÷ès? óOçFRr& Iwur öNä.ät!$t/#uä ( È@è% ª!$# ( ¢OèO öNèdös Îû öNÍkÅÎöqyz tbqç7yèù=t ÇÒÊÈ
Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang
semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatupun
kepada manusia". Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat)
yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan
Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan
(sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal Telah
diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya).? Katakanlah:
"Allah-lah (yang menurunkannya)", Kemudian (sesudah kamu menyampaikan
Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya"
(Al-An’am: 91)
Ayat
pertama menjelaskan bahwa orang-orang musyrik, walaupun mereka meyakini bahwa
Tuhan Pencipta alam itu adalah Allah, namun mereka tetap meyakini
kesyirikan-kesyirikan yang telah menjadi warisan nenek moyang mereka tanpa ada
kemauan untuk merubahnya dengan apa yang Tuhan mereka kehendaki.
Yaitu
meyakini tauhidullah dan bertawakal kepadanya dengan menafikan keyakinan
bathil yang dihubungkan dengan-Nya. Seperti tentang hubungan Allah dan
Jin (Ash-Shaffat: 158), dan bahwa Allah mempunyai anak-anak wanita (Al-Isra`:
40), serta anggapan bahwa manusia tidak mampu berhubungan dan berdialog dengan
Allah, karena Dia demikian Tinggi dan Suci, sehingga para malaikat dan
berhala-berhala perlu disembah sebagai perantara-perantara mereka dengan Allah
(Az-Zumar: 3).
Sedangkan
ayat kedua menegaskan bahwa perlakuan orang-orang Yahudi yang mengingkari
kerasulan Nabi Muhammad merupakan salah satu keingkaran mereka terhadap
keagungan Allah. Hal demikian dikarenakan mereka terlalu bangga dengan apa yang
mereka miliki dari keutamaan. Padahal sudah menjadi suatu konsekwensi logis
bagi setiap manusia yang beriman kepada Allah untuk beriman kepada malaikat,
para rasul, kitab-kitab Samawi, dan hari akhir, serta mempercayai segala apa
yang dikabarkan dalam wahyu Al-Qur`an dan Hadits.
Dari
sekelumit penjelasan tentang pengetahuan Tuhan di atas, dapat kita simpulkan
bahwa ada dua metode dalam menyikapi pengenalan Allah tentang ketuhanannya.
Pertama, Metode
Umum. Yaitu dengan mengikuti petunjuk ajakan Al-Quran untuk memperhatikan
citaan-Nya.
Kedua, Metode Khusus. Yaitu berdalil dengan pengetahuan ketuhanan yang
mengakibatkan terciptanya alam semesta. Metode yang terakhir inilah yang
digunakan oelh para utusan Allah untuk menjelaskan pengetahuan ketuhanan hingga
pada akhirnya para rasul bertanya kepada umatnya,
ôMs9$s% óOßgè=ßâ Îûr& «!$# A7x© ÌÏÛ$sù ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur (
Berkata rasul-rasul mereka:
"Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?(Qs. Ibrahim:
10)
Maksudnya para Rasul bertanya tentang apakah masih ada keraguan
terhadap Allah sehingga perlu adanya dalil untuk menunjukkan keberadaan-Nya?
dalil manakah yang lebih benar dan nyata dari dalil ini? Bagaimana mungkin
menunjukkan sesuatu yang nyata dengan dalil yang tidak jelas? Syakhul Islam
Ibnu Taimiyah berkata: “Bagaimana dia mencari petunjuk tentang sesuatu yang
menjadi petunjuk?” sebagaimana dalam bait syair:
وليس يصح في الأذهان شيء # إذا احتاج
النهار إلي دليل
“Sesuatu itu tidak benar menurut akal, apabila waktu siang saja
(yang begitu jelas) memerlukan bukti keberadaannya.”
Sebagaimana keberadaan Tuhan itu lebih konkret dari keberadan alam,
begitu pula Tuhan itu lebih nyata
menurut akal dan fitrah. Barang siapa yang tidak mengakui hal tersebut, maka hendaklah
introspeksi terhadap akal dan fitrahnya.[8]
Daftar Pustaka
Al-Qur`an Al-Karim
Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur`an
Al-‘Azhim.
Fakhruddin Ar-Razi, Mafatih
al-Ghaib.
Muhammad al-Anwar as-Sanhuti, Ibnu
Qayyim, Siratuhu wa Arauhu fi al-Ilahiyah, terj. M. Ramli, (Jakarta:
Mustaqim, 2001).
Ibn
al-’Izz, Syarh ‘Aqidah ath-Thahawiyah, (Beirut: al-Maktab alIslami 2006).
Harun Yahya, Mengenal Allah Lewat
Akal, Terj. M. Shaddiq, (Jakarta: Robbani Press)
Abdul Halim Mahmud, Al-Qur`an fi
Syarh Al-Qur`an, terj. Ahmad Qosim, (Jakarta: Lentera Basritama, 1997)
[1]
Muttafaq ‘alaih, hadits dari Abu Hurairah. Lihat Irwa’ a-lGhalil, 1220.
[2]
Sebagaimana dalam riwayat lain dikatakan bahwa yang dimaksud fitrah itu
ialah “hadzihi alMillah”.
[3]
HR. Muslim, Ahmad dari hadits ‘Iyadh bin Himar. Lihat Syarh ‘Aqidah ath-Thahawiyah,
Ibn al-’Izz, (Beirut: al-Maktab alIslami 2006), hal. 16.
[4]
Harun Yahya, Mengenal Allah Lewat Akal, Terj. M. Shaddiq, (Jakarta:
Robbani Press), hal. 57.
[5]
Abdul Halim Mahmud, Al-Qur`an fi Syarh Al-Qur`an, terj. Ahmad Qosim,
(Jakarta: Lentera Basritama, 1997), hal. 20.
[6]
Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur`an
Al-‘Azhim, hal. 436
[7]
Fakhruddin Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, Tafsir surat Al-Baqarah ayat 29,
hal 141.
[8]
Madarij as-Salikin (I/59, 60) dalam Muhammad al-Anwar as-Sanhuti, Ibnu
Qayyim, Siratuhu wa Arauhu fi al-Ilahiyah, terj. M. Ramli, (Jakarta:
Mustaqim, 2001), hal. 72-73

0 Response to "Wawasan Al-Qur`an Tentang Tuhan"
Posting Komentar