Comment

Loading...

Blogger news

Keamorfan kebudayaan


Kebudayaan Yang Amorf
Sejak manusia dilahirkan telah dibekali akal nurani yang dengan Aristoteles dan Plato diperdebatkan sebagai manusia dan kolektif yang tidak dapat dipisahkan dari dinamik yang unik yang ada pada diri manusia, dinamik itu tak sekedar bergerak dan berpindah, tapi lebih dari itu yaitu akal dan nurani. Dengn akal dan nurani itu manusia bisa merespon alam sekitarnya, baik langsung maupun tidak langsung.
Kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya, rasa keingintahuan (berfilsafat) manusia dan dibarengi dengan ilmu pengetahuan itulah yang menimbulkan adanya definisi, dan setiap orang memberikan definisi berbeda-berbeda, seperti yang diungkapkan Syafiq Hasyim memilih definisi merupakan ‘bagian dari pertempuran ediologi’.
Sejarah manusia dalam pendefinisikan kebudayaan sangat berkelut, mulai dari etimologis sampai pada terminologis, yang kita tahu bahwa dalam konsep budaya merupakan suatu yang ada di dalam pikiran kita, dan dalam memahami substansi kebudayaan tersebut diperlukan konsep.
Kemudian para pakar antropologi, sosiologi, dan pakar filsafat, turut meramaikan, mendefinisikan arti kebudayaan mulai dari ‘Sir Edward Burnett Tylor’ sampai pemikir antropologi sekarang seperti ‘koentjaraningrat’.
Kebudayaan merupakan keseluruhan komleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat, serta kebiasaan masyarakat lainnya sebagai anggota masyarakat demikian menurut Sir Edward Burnett Tylor (1832-1917)  dalam bukunya Primitive Culture, merupakan  seorang perintis antropologi terkemuka di Inggris tahun 1871 dia merumuskan ‘kebudayaan’ sama dengan ‘peradaban’. Meskipun Kroeber dan Kluckhon memberikan definisi sampai 150 definisi namun hanya satu yang berbeda dengan definisi S. E. D. Tylor, itu artinya konotasi kebudayaan sidah ada dalam konsep pakar-pakar tersebut.
Tapi Sigmund Freud merumuskan kultur secara global yakni ‘ keseluruhan prestasi dan hasil kerja dengan tujuan untuk melindungi manusia terhadap alam serta mengatur manusia dengan manusia. Sikap propesional koentjaraningrat menyikapi definisi kebudayaan dengan ‘seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia’
Sebenarnya pendefinisian kedua pakar antropologi tersebut khendaknya mencakup segala praksis yang ada dalam masyarakat manusia disegala babak sejarah. Definisi harus mencakup suatu fenomen yang luas. Sejarah manusia dalam upaya merumuskan makna dari ‘kebudayaan’ sama kisahnya dalam mereka menafsirkan makna ‘hukum’.
Ada para kalangan pakar hanya memahami kebudayaan dengan konotasi, tanpa mengucilkan makna kebudayaan itu sendiri seperti Keesing dan Strethern tujuannya hanya menjauhkan kita dari sikap reifikasi kita terhadap kebudayaan, yakni ‘materialisasi’ menganggap kebudayaan itu sebagai benda ataupun berwujud.
Jika kita beralih kepada pengertian ‘kebudayaan daerah’ maka khendaknya kita mengidentifikasikan kebudayaan daerah tersebut dengan kebudayaan daerah lainnya. Dengan melakukan konsep ini maka terbentuklah  kebudayaan yang kita kenal denga ‘kebudayaan nasional’, tiap daerah memiliki corak kebudayaan beraneka ragam, karena kerelativisan dari kebudayaan tersebut.
Semakin jauh kita menguraikan muatan dari kebudayaan itu, semakin jelas juga bagi kita masalah kemulti-makna dari muatan kebudayaan itu sendiri, kebudayaan bagaikan sebelantara makna dari realisasi eksistensi yang laten dari manusia, sehingga jika khendak merangkum semua fenomena dan praksis itu, maka dapat mengambil kesimpulan bahwa itu semua hasil kreasi manusia dalam merealisasikan dirinya.
Sebagai contoh istilah kebudayaan dalam satu taha tidak mungkin mensejajarkan makna ‘kebudayaan’ dengan ‘cultuur’ dalam bahasa belanda, ‘culture’ dalam bahasa inggris dan ‘kultur’ dalam bahasa jerman, pensejajaran istilah itu tidak sejalan dengan kesejajaran maknanya dalam bahasa yang bersangkutan.
Pemaknaan kebudayaan terus berkembang sejalan berkembangnya zaman (Zeitgeist), apa yang kita kira bahwa budaya menari itu hanya sekedar tarian, nyanyia ataupun dalam istilah ‘pekan kebudayaan’ tapi sekarang lebih dari itu mulai dari sisi kulinarinya dan mode pakaiannya. Semakin jauh kita mencari muatan dan makna dari kebudayaan, semakin jelas kemultian makna dari kebudayaan itu. Kebudayaan merupakan demikian syarat dengan makna dan akibat dari apa yang dihasilkan.  






Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Keamorfan kebudayaan"

Posting Komentar