Pengaruh Haji Zainuddin Hamidy Dalam Perkembangan Tafsir di Indonesia
Pendahuluan
Segala puji hanya bagi Allah; Tuhan yang telah menurunkan al-Qur’an
sebagai petunjuk untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan
akhirat. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad saw, keluarga
dan sahabat-sahabat beliau, serta semua orang yang mengikuti petunjuknya.
Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, merupakan kitab yang paling memiliki kekuatan
sepanjang sejarah umat manusia. Kekuatan tersebut terkadan muncul dengan
sendiri, karena aspek estetis al-Qur’an atau dimunculkan oleh manusia (ulama,
mufasir) melalui kajian-kajian tafsirnya. Kajian-kajian tersebut dituliskan
dalam kitab-kitab tafsir yang memiliki diversitas metode, corak, bentuk dan
karakteristiknya. Seiring berjalannya waktu, diversitas itu dengan sendiri kemudian
membentuk hasil dari penafsiran al-Qur’an yang berbeda-beda dari para mufasir
atau kitab tafsir yang ada sampai sekarang ini. Dan pada makalah kali ini, kami
akan memaparkan salah satu mufasir di tanah air kita yaitu Haji Zainuddin bin
Abdul Hamid atau yang lebih dikenal dengan Haji Zainuddin Hamidy. Mudah-mudahn
bermanfaat.
A.
Riwayat Hidup Haji Zainuddin Hamidy
1)
Biografi
Haji
Zainuddin Hamidy lahir di Koto Nan IV Payakumbuh pada tanggal 8 Februari 1907.
Anak dari Abdul Hamid dan Halimah. Putra kedua dari dua orang bersaudara,
Kakaknya bemama Nahrawi, istri dad Imam Mukhtasar, seorang ulama terpandang
didaerahnya. Dia memiliki 5 orang saudara sebapak, seperti Zainullah,
Amiruddin, Salim, Mariam, dan Bermawi. Masa kecil dihabiskan Zainuddin Hamidy
di kampung halamannya. Abdul Hamid, ayahnya terkenal sebagai seorang berilmu,
terutama ilmu agama yang mendalam, maupun ilmu bela diri silat. Beliau memiliki
sifat percaya diri yang tinggi, pemberani dan suka menolong orang lain. Ia
sering menghadapi preman atau parewa pasar yang suka memeras dan menganiaya
masyarakat lemah. Karena keberanian dan kepiawaiannya dalam bela diri inilah
masyarakat memberikan julukan padanya dengan orang bagak (orang yang
pemberani).[1]
Keberadaan
bapaknya yang merupakan “orang bagak” di kampungnya, tidak membuat Zainuddin
sombong, ia selalu bersikap baik kepada semua orang. Zainuddin di waktu
kecilnya tidak suka bermain seperti kebanyakan anak sebayanya, ia lebih suka
belajar. Paling dia hanya bermain bola yang merupakan olaah raga kesukaannya.
Bahkan hobi main bola ini dibawa sampai beliau dewasa. Menurut keterangan murid
beliau, H. Haffash Shamah, Buya Zainuddin bila tidak mengajar, sering bermain
bola dengan murid-muridnya dan pemuda sekitar pesantren yang dia dirikan.[2]
Zainuddin
Hamidy adalah seorang yang ramah tamah, tapi konsekuen, ulet dan tidak pernah
berputus asa. Beliau tidak banyak bicara hal-hal yang tidak perlu, beliau
banyak tersenyum dan memiliki wibawa yang sangat besar. Beliau adalah ahli
agama dan tokoh masyarakat yang selalu berpenampilan sederhana. Karena keluasan
ilmu dan kealimannya, masyarakat Koto dan Ampek menggelari beliau dengan gelar “Angku
Mudo” yang berarti seorang ahli agama yang masih muda. Kepada
murid-muridnya, Buya Zainuddin Hamidy juga bersikap ramah dan santun. Sekalipun
bersikap tenang dan santun, Namun Buya Zainuddin Hamidy terkenal sangat
disiplin dalam mengajarkan pendidikan, baik kepada murid-muridnya bahkan juga
kepada anak-anak beliau.
Setelah
menikah dengan Rahmah binti Abu Bakar, Buya Zainuddin Hamidy berangkat ke
Mekkah pada tahun 1927 untuk menunaikan ibadah Haji dan menuntut ilmu dengan
meninggalkan istri tercintanya. Setelah belajar beberapa tahun dan merasa cukup
waktu dalam menuntut ilmu agama, Zainuddin Hamidy pulang ke kampung halamannya
dalam usia yang relative muda. Setelah sampai di Payukumbuh, beliau kemudian
menikahi Desima Jasin. Dengan Desima Jasin ini, Zainuddin Hamidy memiliki tujuh
orang anak.[3]
H.
Zainuddin Hamidy wafat pada hari jum’at tanggal 29 Maret 1997 secara tiba-tiba
di kamar di samping sekolahnya, Ma’had Islami, setelah kembali dari Jakarta
berunding dengan Presiden Soekarno. Beliau meninggalkan 2 orang istri, yaitu
Rahmah binti Abu Bakar dan Desima dari keduanya beliau dikaruniai 14 orang
anak. Dari istri pertama beliau memiliki 7 orang anak, begitu juga istri kedua
beliau dikarunia 7 orang anak.
Meninggalnya
Syaikh Haji Zainuddin Hamidy membuat Sumatra Barat berkabung. Umat Islam,
khususnya masyarakat Payukumbuh merasa kehilangan tokoh yang seluruh hidupnya
di dedikasikannya untuk kemajuan pendidikan dan kemaslahatan umat Islam
Sumatera Barat dan Indonesia pada umumnya.
A. Latar
Belakang Pendidikan
1. Pendidikan
Formal dan Non Formal
Disamping melewati pendidikan nonformal tradisional yaitu surau,
Zainuddin Hamidy juga menempuh pendidikan formal. Selama lima tahun, ia sekolah
di sekolah governement di Payakumbuh. Setelah tamat dari sekolah ini, ia
melanjutkan belajar di sekolah Darul Funun al-Abbasy di Padang Japang. Madrasah
Darul Funun ini merupakan sebuah lembaga pendidikan yang telah mengalami
perubahan, baik dalam system pendidikan maupun dalam fasilitas yang digunakan.
Sekolah ini telah memakai system klasikal dan para muridnya telah belajar
dengan mempergunakan fasilitas bangku, meja, dan berpakaian rapi seperti
memakai kemeja, dasi dan jas. Di Madrasah Darul Funun ini, Zainuddin Hamidy
belajar al-Qur’an, ilmu tafsir, bahasa arab, dan ilmu-ilmu lainnya. Zainuddin
dikenal dengan murid yang cerdas. Hal ini terbukti ketika ia duduk di bangku
terakhir (kelas akhir), ia dipercaya untuk mengajar kelas lima.[4]
2.
Belajar Ke Mekah
Buya Zainuddin Hamidy seorang ulama yang cerdas, Karena kecerdasan
dan kepintarannya, pimpinan Madrasah Darul Funun al-Abbasy, Syaikh Abdullah
Abbas menginginkan Zainuddin sebagai penggantinya mengajar di Darul Funun. hanya saja, Zainuddin merasa ilmunya belum
cukup. Ia memilih melanjutkan pendidikan ke Makkah. Tahun 1927, dengan
meninggalkan istri tercinta, Rahmah, Zainuddin Hamidy berangkat ke mekah. Di
kota ini Zainuddin beliau menuntut ilmu agama di salah satu perguruan terkenal
masa itu, Ma’had Islamy. Zainuddin Hamidy merupakan orang Indonesia pertama
yang sekolah di perguruan ini. Di perguruan yang terkenal itu Zainuddin belajar
selama lima atau enam tahun beliau kembali ke tanah air pada 1932 dalam usia
yang masih relative muda.
3.
Belajar
al-Qur’an
Zainuddin Hamidy belajar al-Qur’an semenjak
usia kecil. Pada saat itu beliau mengaji di surau di kampungnya. Di surau
tersebut beliau tidak hanya belajar mengaji (membaca al-Qur’an) namun juga
belajar akhlak dan pengetahuan agama. Dalam usia yang masih kecil beliau telah
mampu menghafal surah-surah pendek dan hadits Nabi. Surah-surah tersebut sering
dibaca ketika Zainuddin kecil berpidato di hadapan keluarganya.
Setelah menamatkan sekolah dasar, beliau
belajar di Darul Funun, disana beliau belajar dan menghafal al-Qur’an dengan
Buya Abdul Abbas, seorang ulama yang hafal al-Qur’an dan pernah belajar di
Mekah. Di samping itu dia juga belajar kepada Tuangku Karuang di Payukumbuh.
Pelajaran al-Qur’an ini beliau teruskan waktu menimba ilmu di Mekah.[5]
4.
Sanad Tahfizh
dan Murid-Muridnya
Menurut Dr. Nukman, Dosen Pasca Sarjana IAIN
Imam Bonjol Padang, salah satu budaya keilmuan di Minangkabau pada masa dahulu,
ialah sebelum seseorang belajar ilmu agama, dia harus terlebih dahulu belajar
al-Qur’an. Ketika belajar al-Qur’an inilah sebagian besar ulama-ulama yang
terkenal di Sumbar menghafal al-Qur’an. Belajar al-Qur’an waktu itu biasanya
dengan system halaqah .
Budaya itu juga
Buya Zainuddin. Meski tidak di temukan informasi yang jelas tentang metode
beliau menghafal al-Qur’an dan sanad tahfizhnya, namun sepulang dari Mekah,
Buya Zainuddin Hamidy terkenal sebagai seorang hafizh (hafal al-Qur’an) dan
ahli hadits. Bahkan beliau mendapat gelar muhaddits, satu gelar yang
diberikan kepada orang yanghfal 10.000 hadits. Menurut penuturan muridnya, Haji
Haffash, Buya Zainuddin menghafal hadits lengkap dengan sanadnya. Di antara
murid-muridnya yang terkenal sebagai penghfal al-Qur’an adalah:
1)
Zubir Said, beliau adalah seorang qari’ dan
hafizh
2)
Arius Saikhi, ahli hisab
3)
Abdurrahman Zainuddin, putra Buya Zainuddin,
beliau adalah guru besar di Universitas Indonesia dan seorang penghafal
al-Qur’an
Sebagai seorang
hafizh yang ahli di bidang ulumul Qur’an, Buya Zainuddin menaruh perhatian yang
sangat besar terhadap penafsiran al-Qur’an dan pengembangan pembelajaran ilmu
hadits di Indonesia.[6]
B. Pengaruh
Kehidupan Sosial Kultural
1. Tokoh
Pendidikan
Didalam
dunia pemikiran Zainuddin Hamidy banyak mencurahkan pemikirannya dalam dunia
pendidikan dan keagamaan. Sekembalinya dari Mekah, Buya Zainuddin
mendedikasikan ilmunya pada madrasah tempat pertama ia menuntut ilmu. Setelah
berharap lama mengajar di Darul Funun, Kemudian Syaikh Zainuddin mendirikan
lembaga pendidikan Islam Ma’had Islamy di Koto Nan Ampek Payakumbuh. Ma’had
Islamy yang nama awalnya Diniyah School. Pengambilan nama Ma’had Islamy
dilatarbelakangi oleh romantisme Syaikh Zainuddin Hamidy ketika ia menuntut
ilmu di perguruan Ma’had Islamy Mekah. Pesantren ini menjadi pusat pendidikan
agama waktu itu, dimana muridnya tidak hanya dari Payakumbuh, namun juga di
daerah lain di Sumatera Barat. Bahkan juga berasal dari provinsi lain.[7]
Di Ma'had Islamy ini, sejak tahun 1933, Syekh
Haji Zainuddin Hamidy banyak melakukan inovasi-inovasi. Inovasi tersebut
dilakukannya secara bertahap. Inovasi yang dilakukan selain merubah sistem
pendidikan dan pengajaran dad halaqah menjadi klassikal, juga dilakukan pembangunan
gedung Ma'had Islamy. Syekh Haji Zainuddin Hamidy juga giat dalam mengembangkan
jumlah sekolah. Pada tahun 1933 ini juga, ia mendirikan sekolah tingkat
Tsanawiyah sebagai lanjutan dari tingkat ibtidaiyah. Dengan bermunculannya
sekolah-sekolah pemerintah yang didirikan oieh pemerintah kolonial Belanda,
Syekh Haji Zainuddin Hamidy memasukkan pelajaran-pelajaran umum ke sekolah
Ma'had Islamy. Pelajaran yang diberikan disamping pefajaran agama juga
dipelajari pelajaran umum dengan bahasa pengantamya Bahasa Arab. Pelajaran
tersebut diantaranya adalah geografi, ilmu pendidikan dan sejarah Islam.
Berkat
kepemimpinan Syekh Haji Zainuddin Hamidy, Ma'had Islamy berkembang pesat.
Secara kuantitatif hal ini terlihat ketika tahun 1936, pelajar-pelajar yang
menuntut ilmu di Ma'had Islamy semakin bertambah. Banyaknya pelajar-pelajar
tersebut hingga perlu dilakukan penambahan gedung yang memadai, Penambahan
gedung yang memakan biaya yang cukup banyak ini bisa diatasi karena banyaknya
sumbangan dari masyarakat Minangkabau, khususnya masyarakat Payakumbuh. Hal ini
merefleksikan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat Minangkabau, khususnya
Payakumbuh terhadap Syekh Haji Zainuddin Hamidy sangat tinggi.
2. Perjuangan
Kemerdekaan
Syaikh
Zainuddin Hamidy sebelum kemerdekaan termasuk kedala “kelompok lima”. Sebuah
kelompok pergerakan legendaris di Payakumbuh. Kelompok ini merupakan sebuah
kelompok intelektual yang selalu mendiskusikan perkembangan-perkembangan dan
mempersiapkan langkah-langkah strategi untuk kemerdekaan Indonesia. Selain
Syaikh Zainuddin Hamidy, kelompok lima ini terdiri dari tokoh-tokoh terkemuka
Payakumbuh pada waktu itu, yaitu: Fakhruddin HS, Datok Majo Indo, Arisun St.
Alamsyah, Haji Nasharuddin Thaha, dan Haji Darwis Taram Dt. Tumanggung.[8]
Pembaharuan di Indonesia, khususnya di Minangkabau banyak
dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Syekh Ahmad Khatib al¬Minangkabawi,
Pembaharuan pemikiran ini tidak dibawa secara iangsung oleh Syekh Ahmad Khatib
al-Minangkabawi yang berdomisili secara permanen di Mekkah, tapi pemikirannya
tersebut ditransformasikan lewat murid-muridnya yang belajar di Mekkah. Syekh
Ahmad Khatib al-Minangkabawi dalam sejarah intelektual clan pembaharuan Islam
Indonesia, khususnya Minangkabau, dianggap sebagal ulama yang mempunyai
kontribusi signifikan dafam menghembuskan "angin" pembaharuan ke
Minangkabau. Diantara murid-muridnya yang pulang dari Mekkah dan kemudian
dikenal sebagai ulama-ulama avant garde Minangkabau diantaranya Syekh Muhammad
Jamil Jaho, Syekh Muhammad Thaib Umar, Syekh Abdullah Ahmad dan Syekh Abdul
Karim Amrullah (Haji Rasul) yang kemudian nama-nama diatas tersebut dikenal
dengan julukan Empat Serangkai. Selain empat serangkai ini, juga dikenal Syekh
Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Daud Rasyidi, Syekh Abdul Latief, Syekh Abbas dan
Syekh Mustofa, Syekh Ibrahim Musa, Syekh Sutan Darab dari Pariaman, Syekh
Khatib AIi dan lain-lain. Di Minangkabau, mereka ini mempelopori pergerakan
pembaharuan Islam. Mereka mendirikan perkumpulan-perkumpulan, baik yang
bergerak dalam lapangan pendidikan maupun yang bergerak dalam bentuk
organisasi-organisasi sosial. Diantara lembaga-lembaga pendidikan yang berdiri
pada masa ini diantaranya Sekolah Adabiyah, Surau Jembatan Besi yang kemudian
berubah menjadi Sumatera Thawalib, dan Madrasah Thawalib di Padang Japang.[9]
Dengan semangat
yang sangat menggelora, Syaikh Zainuddin Hamidy menyediakan gedung Ma’had
Islamy sebagai pusat pertemuan para tokoh Payakumbuh dan juga sebagai tempat
latihan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) serta laskar-laskar perjuangan.
3.
Dalam Bidang Politik
Setelah
kemerdekaan, Syaikh Haji Zainuddin Hamidy di percaya sebagai Ketua Komite
Nasional kabupaten 50 kota bersama-sama dengan para tokoh masyarakat
Payakumbuh, mereka terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk melakukan
penyadaran terhadap esensi kemerdekaan serta mempertahankan kemerdekaan itu
sendiri.
Pada saat terjadinya ketegangan antara daerah dengan pemerintah pusat,
Syaikh Zainuddin Hamidy menjadi tokoh kunci dalam proses penyelesaian konflik
tersebut. Beliau diutus ke Jakarta untuk berunding dengan Presiden Soekarno
sebagai utusan dari Sumatera Tengah bersama dengan teman-temannya. Bahkan,
sebelum meninggal, Zainuddin sudah mencemaskan akan terjadi perang senjata waktu itu. Dan kehawatiran ini
akhirnya terjadi. Dalam partai politik, Syaikh Zainuddin Hamidy juga aktif.
Beliau pernah menjabat Ketua Masyumi Kabupaten 50 kota. Di partai politik
dibidangi oleh Muhammad Nashir inilah, Zainuddin mencurahkan secara maksimal
kontribusi politiknya sampai beliau wafat tahun 1957. Beliau dikenal sebagai
ulama diplomat yang anti kekerasan.[10]
C. Pemikiran
dan Karya
1) Metodologi
Penafsiran
Manhaj yang digunakan oleh Zainuddin Hamidy dan
Fachruddin Hs dalam menafsirkan al-Qur'an ini tidak dijelaskan secara eksplisit
dalam kitab tafsirnya ini, apakah tafsir bi al-riwayah, tafsir bi al-ra'yi atau
tafsir bi al-isyari. Dari pengamatan penulis terhadap penafsiran Hamidy dan
Fachruddin dalam menafsirkan al-Qur'an, manhaj yang digunakan oleh beliau
adalah manhaj tafsir bi al-ra'yi / bi al-ijtihadi.[11]
Dari hasil kajian terhadap metode tafsir Zainuddin
Hamidy, bila ditinjau dari sudut sistimatika penulisannya, jelas beliau
menggunakan metode tahlili, karena beliau menafsirkan ayat al-Quran secara urut
sesuai dengan urutan ayat dan surat dalam al-Qur'an, yaitu dimulai dengan surat
al-fatihah dan diakhiri dengan surat al-Naas.
Lawn Tafsir Qur'an Karim karya Zainuddin Hamidy dan
Fachruddin Hs ini walaupun tidak secara nyata mengarah kepada salah lawn yang
ada, paling tidak secara keseluruhan yang tergambar dari uraiannya menuju pada
lawn sosial kemasyarakatan (Adab Ijtima'i). Kalau pemakalah melihat rujukan
tafsir ini, karena kebanyakan tafsir tahlili merujuk pada Tafsir Jalalain dan
Tafsir Ath-Thabari.
2) Beberapa
Karya Beliau
Syaikh
Zainuddin Hamidy dikenal luas ahli agama, hafiz, ahli hadits, pengarang,
disamping sebagai tokoh pendidikan. Sering pula beliau disebut sebagai
politikus, organisator, pemikir yang berpandangan jauh jauh ke depan dan
berpikir jernih. Selain aktif dalam mengajar, Zainuddin Hamidy juga banyak
menulis buku. Sayangnya buku-buku ini banyak yang hilang ketika Belanda dan
Jepang mengobrak-abrik pesantren Ma’had Islamy dan rumah Buya Zainuddin Hamidy.
Beberapa karya tulisnya antara lain:
1.
Terjemahan
al-Qur’an Karim, merupakan Tafsir Al-Qur’an pertama di Indonesia yang
dikarangnya bersama-sama dengan Fakhruddin HS berdasarkan periodisasi tafsir di
Indonesia, tafsir ini merupakan generasi
ke-IV yakni abad-20 jadi dikarang sekitar tahun 1963-an[12]
2.
Terjemahan
Shahih Bukhari, beliau karang bersama Darwis Z dan Fakhruddin HS tahun terbit
kedua 2006.
3.
Terjemahan
Hadits Arba’in, kitab tauhid dan Musthalahul Hadits, kitab terakhir ini
merupakan salah satu pegangan beliau ketika mengajar ilmu hadits di Training
Collage Payakumbuh dan PGA A Bukittinggi.[13]
Penutup
Perkembangan suatu ilmu sangat dipengaruhi
oleh seberapa besar perhatian yan diberikan terhadap ilmu tersebut. Sedikitnya
muncul sosok huffaz di Sumatera Barat, tidak terlepas dari sedikit dan masih
kurangnya penelitian dan perhatian terhadap keberadaan mereka. Padahal di balik
kemasyhuran mereka di bidang fikih, hadits, dan tafsir, mereka juga adalah
ulama penghafal al-Qur’an. Satu pembelajaran yang sangat berharga bahwa seorang
ulama tidak akan pernah bisa dilepaskan dari al-Qur’an. Kerendahan hati yang
menyebabkan mereka tidak suka menonjolkan kemampuan yang mereka miliki secara
berlebihan. Sosok Zainudddin Hamidy karena dia hidup pada masa penjajahan,
lagipula data-data litelatur tentang beliau tidak begitu banyak, ada tetapi
sedikit sehingga dalam mencari refrensi cukup kesulitan. Seperti yang
dijelaskan pada makalah bahwa data-data maupun karya-karya beliau dibakar habis
oleh kololial Belanda
Daftar Pustaka
Shahib, Muhammad dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para
Penjaga al-Qur’an, Jakarta: Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur’an, September
2011 M
Hiamat
Israr, Angku Mudo H. Zainuddin Hamidy Pejuang Agama Dan Pendiri Ma’had Islami
Payakumbuh, Bandung: Budaya Media, 2010 M
http://ulama-minang.blogspot.com/2010/01/syekh-zainuddin-hamidy-1905-1985.html, diaskes
hari senin, tgl 20 juni 2012, jam 6.23 am.
http://chaqoqo.blogspot.com/2011/11/tafsir-quran-karim-karya-h-zainuddin.html, diaskes hari selasa, tgl 3 juli 2012,
jam 2.41 pm
http://thkhusus.wordpress.com/2010/01/03/sekilas-tafsir-di-indonesia/,
diaskes pada hari selasa, tgl 3 juli 2012, jam 3.08 pm.
[1]
Muhammad Shahib dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur’an:
Biografi Huffaz Al-Qur’an di Nusantara, (cet. I; Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur’an, September 2011 M), hal. 423.
[2]
Muhammad Shahib dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur’an:
Biografi Huffaz Al-Qur’an di Nusantara, (cet. I; Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur’an, September 2011 M), hal. 423-424
[3]
Muhammad Shahib dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur’an:
Biografi Huffaz Al-Qur’an di Nusantara, (cet. I; Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur’an, September 2011 M), hal. 426. http://ulama-minang.blogspot.com/2010/01/syekh-zainuddin-hamidy-1905-1985.html
[4]
Muhammad Shahib dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur’an:
Biografi Huffaz Al-Qur’an di Nusantara, (cet. I; Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur’an, September 2011 M), hal. 428
[5]
Hiamat Israr, Angku Mudo H. Zainuddin Hamidy Pejuang Agama Dan Pendiri Ma’had
Islami Payakumbuh, Bandung: Budaya Media, 2010. Hal. 5. Muhammad Shahib dan M.
Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur’an: Biografi Huffaz Al-Qur’an di
Nusantara, (cet. I; Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, September 2011 M),
hal. 428
[6]
Muhammad Shahib dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur’an:
Biografi Huffaz Al-Qur’an di Nusantara, (cet. I; Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur’an, September 2011 M), hal. 430
[7]
Muhammad Shahib dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur’an:
Biografi Huffaz Al-Qur’an di Nusantara, (cet. I; Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur’an, September 2011 M), hal. 431-432
[8]
Muhammad Shahib dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur’an:
Biografi Huffaz Al-Qur’an di Nusantara, (cet. I; Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur’an, September 2011 M), hal. 432
[9]
http://ulama-minang.blogspot.com/2010/01/syekh-zainuddin-hamidy-1905-1985.html, diaskes hari senin, tgl 20 juni 2012,
jam 6.23 am.
[10]
Hiamat Israr, Angku Mudo H. Zainuddin Hamidy Pejuang Agama Dan Pendiri Ma’had
Islami Payakumbuh, Bandung: Budaya Media, 2010. Hal. 18. Muhammad Shahib dan M.
Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur’an: Biografi Huffaz Al-Qur’an di
Nusantara, (cet. I; Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, September 2011 M),
hal. 433
[11]
http://chaqoqo.blogspot.com/2011/11/tafsir-quran-karim-karya-h-zainuddin.html,
diaskes hari selasa, tgl 3 juli 2012, jam 2.41 pm
[12]
http://thkhusus.wordpress.com/2010/01/03/sekilas-tafsir-di-indonesia/,
diaskes pada hari selasa, tgl 3 juli 2012, jam 3.08 pm.
[13]
Muhammad Shahib dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur’an:
Biografi Huffaz Al-Qur’an di Nusantara, (cet. I; Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur’an, September 2011 M), hal. 434
0 Response to "Pengaruh Haji Zainuddin Hamidy Dalam Perkembangan Tafsir di Indonesia"
Posting Komentar