Comment

Loading...

Blogger news

Pembebasan


Teologi berasal dari theos yang berarti Tuhan dan logos yang berarti ilmu. Teologi adalah ilmu yang mempelajari tentang Tuhan dan hubungannya dengan manusia dan alam semesta. Sedangkan kata pembebasan merupakan istilah yang muncul sebagai reaksi atas istilah pembangunan (development) yang kemudian menjadi ideologi pengembangan ekonomi yang cenderung liberal dan kapitalistik dan umum digunakan di negara dunia ketiga sejak tahun 60-an.[1]
Teologi Pembebasan muncul di kawasan Amerika Latin sebagai respon atas kondisi sosial, ekonomi dan politik saat itu.[2] Asghar Ali melihat Islam sebagai agama yang mengandung semangat pembebasan. Oleh karena itu, Asghar mencoba untuk merevitalisasi nilai-nilai pembebasan Islam dan merumuskan Islam sebagai Teologi Pembebasan. Upaya revitalisasi dan perumusan itu dia dasarkan pada dua hal. Pertama, berdasarkan pada analisis kesejarahan pembebasan yang pernah dilakukan Nabi Muhamad.
Kedua, dari banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit mendorong proses pembebasan seperti Ayat tentang pemerdekaan budak, kesetaraan umat manusia, kesetaraan jender, kecaman atas eksploitasi dan ketidakadilan ekonomi, dan lain sebagainya.
Hal ini tergambar ketika ia menafsirkan surat An-Nisa ayat 32:  “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
 ia menyatakan bahwa perempuan juga mempunyai andil dalam mensejahterakan keluarganya, ayat ini oleh Ali Ashgar Enginer merupakan sebuah pembebasan bagi perempuan, bahwa perempuan juga mempunyai hak yang sama dengan laki-laki.
Menurut tafsir Ibnu Katsir ungkapkan seolah-olah ia menyatakan ”janganlah kau iri terhadap apa yang diberikan laki-laki. Seakan-akan pernyataan Ini membenarkan bahwa laki-laki itu sebagai pemimpin tetap kokoh diatas, perempuan masih diabaikan.
Kalau merujuk esensi al-Qur’an diturunkan yakni sebagai “hudan” bagi manusia. Menurut penulis, al-Qur’an diturunkan “hudan” maka mengimpelementasikannya juga khendaknya dengan hudan yakni bagaimana memasyarakatkan al-Qur’an, bahwa al-Qur’an Li Kulli Zaman wa Makan, 



[1] Francis Wahono Nitiprawiro, Teologi Pembebasan, Sejarah, Metode, Praksis dan Isinya, (Yogjakarta: LKiS, cet. II, 2008), hlm. 8-9
[2] Michael Lowy, Teologi Pembebasan, (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 40

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pembebasan"

Posting Komentar